Rabu, 17 Desember 2008

MENGEMBANGKAN KEWIRAUSAHAAN


Saya meyakini bahwa, kisah keberhasilan suatu bangsa dan Negara sering diidentikan dengan kisah heroisme pemuda, tidak terkecuali didunia usaha. Para entrepreneur muda membangun bisnis dari nol hingga kemudian menorehkan sejarah dalam peta bisnis dunia. Sebagai contoh saja, Bill Gates yang mendirikan Microshoft saat berusaia 20 tahun. Dia seorang drop out dari Harvard Univerrsity. Steve Jobss dan Stave Wozniak pendiri Apple Computer berusaia 21 dan 26 tahun, Larry Page dan Sergrey Brin (Google, 25 dan 24 tahun), atau Mark Zuckerberg, usia 23 tahun pendiri Facebook. Para pemumuda tadi telah mengubah peta dunia bisnis. Mengubah kehidupan, dan mengubah dunia. Mereka menjadi deretan orang-orang terkaya didunia.

Dinegara yang dahulu dikenal dengan sebutan Tirai Bambu yaitu China (RRC), para pengusaha kelas dunianya kini mulai dikuasai oleh kalangan muda. Orang terkaya di China tahun 2007 di sandang oleh seorang wanita muda usia Yang Huiyan 27 tahun, dengan total kekayaan sekitar 62 trilun. Dia berangkat dari seorang pemasar property. Kini dia menjadi pengusaha property terbesar di China. Pada tahun 2008 ini, Huang Guangyu usia 39 tahun menggeser Yang Huiyan, menjadi orang terkaya di China. Huang pemuda putus sekolah SMA di Guangzhou, memulai usaha sebagai pedagang keliling elektronika. Lalu dia mengambangkan usahanya menjadi pengecer elektronika. Sekarang dia menjadi pemilik Gome peritel elektronika terbersar di China. Kekayannya mencapai 63 triliun. Dia diramalkan akan menggeser Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia.

Bagaimana dengan di Negara kita. Dalam beberapa tahun terkhir ini, blantika bisnis di tanah air sudah mulai diramaikan oleh kalangan muda. Sebut saja Sandiaga Salahuddin Uno, Erwin Aksa, Errik Thohir, Hariyadi Sahid Gitosarjono, dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka adalah para entrepreneur muda yang memulai usaha dengan modal semangat yang luar bisa. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, didukung modal kemampuan dan keberanian mengambil risiko mereka mengembangkan kiprah bisnisnya.

Pada tahun 2008 ini, dunia usaha Indonesia kembali diramaiikan oleh tampilnya entrepreneur muda. Mereka berusia 25 sampai 35 tahun. Benar-benar usia yang sangat produktif. Empat serangkai Febri Triyanto (26), Fat Aulia Muhamad (30), Eko Yulianto (31), dan Ashary Tamimi (30) mendirikan Tela-Tela Fried Cassava. Acep Sulaiman Subanda (31) Pemilik PT Santika Nusantara. Pemuda lulusan Pondok Pesantren Gontor Ponorogo ini memimpin kelompok bisnis Santika Group, yang membawahkan enam perusahaan. Gurita bisnisnya menjalar kebeberapa bidang usha, mulaidari peternakan ayam, penyewaan kendaraan bermotor, perkebunan, hotel hingga agan perjalanan Umroh dan Haji.

Lihan seorang Ustadz asal Martapura Kal-Sel yang memulai usaha dengan mencari pembeli berlian, kini menjadi pengusaha dengan omzet puluhan milyar. Gurita bisnisnya telah menembus usaha di bidang peretelevisian, percetakan, perkebunan, transportasi, ekspor-impor dan berbagai usaha jasa. Lihan mempunyai konsep bisnis sendiri. Dalam konsep bisnisnya, ia tidak memikirkan untung-rugi dulu. Yang penting, “bagaimana supaya orang bisa bekerja dan mengurangi pengangguran”. Suatu konsep bisnis yang tidak saja menapak pada ekonomi, tetapi juga pada ranah social.

Contoh diatas dapat dijadikan penggugah inspirasi, pembuka gagasan, dan pendorong semangat serta keyakinan bahwa, para pemuda kita mempunyai peluang untuk menjadi entrepreneur. Yang Igong (2000) mengatakan siapapun bisa menjadi entrepreneur, asalkan saja dia mau dan mampu memanfaatkan bakatnya, pengetahuan, dan kemampuannya untuk menghasilkan produk barang atau jasa yang bisa dijual. Ma. Yao (2000) mengatakan, orang muda akan tergerakan untuk menjadi entrepreneur. Dalam pada itu harus ada usaha sistemik dan sistematik untuk merubah mindsets atau pola pikir pemuda dari “job seeker (pencari kerja) menjadi job creator (pencipta lapangan kerja).

Negara kita saat ini sangat memerlukan entrepreneur dalam jumlah yang besar. Ciputra, Erwin Aksa, mengatakan sedikitnya 2 persen dari jumlah penduduk haruslah menjadi entrepreneur. Saat ini Indonesia dengan penduduk mendekati 230 juta hanya memiliki 400 ribu orang pengusaha atau hanya 0,02 persen. Padahal sedikitnya harus ada 4 juta orang. Untuk itulah diperlukan usaha bersama dari seluruh elemen Negara dan bangsa guna melahirkan entrepreneur muda yang berkeunggulan kompetitf. Kita memerlukan entrepreneur muda di bidang ekonomi dan social atau “social entrepreneur”. Pandangan ini didasarkan pada pengalaman empiric banyak Negara dimana kemajuan ekonmomi yang dicapai selalu didukung kemajuan di bidang sosial. Untuk memajukan bangsa dan Negara kita, maka kita harus memacu kemajuan di bidang sosial dan ekonomi. Keduanya laksana dua daur mata uang antara sisi yang satu dengan sisi yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Modal sosial dan modal ekonomi harus dikembangkan secara bersamaan dan seimbang. Pengembangan modal sosial akan dapat memacu berkembangnya modal ekonomi. Modal sosial (social Capital) akan menjadi ladang yang subur bagi pertumbuhan kemajuan ekonomi yang mensejahterakan rakyat (Sudradjat 2004).

Pemikiran inilah yang mendasari pemilihan judul kuliah umum “Mengembangkan Kewirausahaan Di Bidang Sosial Dan Ekonomi Bagi Pemuda dan Generasi Muda”. Dalam makalah ini dipaparkan pembahasan yang tentang; (1) Pemahaman Entrepreneur dalam Perspekti Sosial dan Ekonomi; (2) Pentingnya Melahirkan Entrepreneur Muda di Bidang Social dan Ekonomi; (3) Langkah Strategis dan Program Aksi Bersama; (4) Jadilah Entrepreneur; (5) Kesimpulan dan Harapan.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa menurut Al Quran, manusia adalah mahluk yang berpotensi untuk menguasai ilmu pengetahuan. Pengetahuan tentang entrepreneur yangakan diaktualisasikan dalam sosial, maupun dalam bidang ekonomi niscaya bisa dikuasi oleh manusia. Allah SWT yang mengajari manusia semua hal yang sebelumnya tidak diketahuinya, seperti yang terkandung dalam Al-Quran Surat Al-‘Alaq ayat 5. Bagti mahasiswa Universitas Negeri Islam Sunan Gunung Jati, memilih menjadi entrepreneur adalah suatu pilihan yang tepat. Menjadi entrepreneur adalah wujud mengikuti Sunnah Rasul. Nabi kita - Rasul kita, adalah contoh dan ikon sosok entrepreneur yang amanah. Kiprah Sunan Gunung Jati yang membawa perubahan besar pada kehidupan masyarakat yang sesuai dengan ajaran Isalam, kiranya perlu dijadikan sumber motivasi untuk menjadi entrepreneur. Menjadi entrepreneur hendaknya dijadikan sebagai pilihan untuk menuju “Sebaik-baiknya manusia adalah yang banyak memberikan kabaikan, pada sesama manusia yang lain”.



PEMAHAMAN ENTREPRENEUR DALAM PERSPEKTIF SOSIAL DAN EKONOMI

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam,
Kami angkat mereka di daratan dan dilautan,
Kami berikan rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka
Dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk
Yang telah kami ciptakan
(QS Al-Isr’a 17;70)

Rasanya terlalu sering mendengar kata entrepreneurship atau kewirausahaan, dan entrepreneur atau wirausahawan. Kita perlu memahami arti yang terkandung didalamnya. Istilah “entrepreneur” mulai dikenal pada paruh pertama abad ke 18. Richard Cantillon (1730) seorang yang disebut-sebut sebagai pencetus istilah entrepreneur mengatakan bahwa, inti dari kegiatan entrepreneur adalah menanggung risiko. Cantillon menegaskan bahwa, entrepreneur adalah “a self-employed person with uncertaint return”. Ekonom Jean – Baptiste Say (1810) mengatakan, seorang entrepreneur adalah seorang koordinator produksi dengan kemampuan menejerial. Ia dikatakan sebagai the pivot on which everything turns, pusat dari bergeraknya segala sesuatu. Ditangan entrepreneur, sesuatu yang masih bersifat ide-ide yang abstrak, mewujud menjadi sesuatu yang dapat dinikmati orang banyak. (Andras Harefa & Eben Ezer Siadari 2006).

Lebih jauh, Joseph Schumpeter (1910) mendefinisikan ‘entrepreneur in an innovator, carrying put new combination” dan “ Entrepreneurship is the prime creative socio-economic force in society” Menurutnya entrepreneur adalah seorang innovator, pembawa kombinasi-kombinasi baru. Entrepreneurship adalah kekuatan sosial ekonomi utama dalam masyarakat. D.C. MacClelland (1961) berpendapat bahwa entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kebutuhan tinggi untuk berprestasi. McClelland merinci karakteristik orang yang memiliki kebutuhan tinggi untuk berprestasi sebagai berikut (1) lebih menyukai pekerjaan dengan risiko yang realistis, (2) bekerja lebih giat dalam tugas-tugas yang memerlukan kemampuan mental; (3) Tidak bekerja lebih giat karena imbalan uang; (4) Ingin bekerja pada situasi di mana dapat diperoleh pencapaian pribadi (personal achievement); (5) Menunjukan kinerja yang lebih baik dalam kondisi yang memberikan umpan balik yang jelas dan positif; (6) Cenderung berpikir ke masa depan serta memiliki pemikiran jangka panjang.

Amran Hakin Nasution dan kawan-kawan (2007) memberikan pemahaman entrepreneur yang selaras dengan pandangan J. Schumpeter dan MacClelland. Menurutnya, entrepreneur adalah mereka yang mampu memajukan perekonomian masyarakat, berani mengambil risiko, mengoordinasikan kegiatan, mengelola modal atau sarana produksi, mengenalkan fungsi produksi baru, serta memiliki respon kreatif dan inovatif terhadap perubahan yang terjadi. Dikatakan lebih lanjut, entrepreneur bukanlah sekedar pedagang, namun bermakna jauh lebih dalam, yaitu berkenaan dengan mental manusia, rasa percaya diri, efisiensi waktu, kreativitas, ketabahan, keuletan, kesungguhan, dan moralitas dalam menjalankan usaha mandiri. Tujuan akhirnya adalah mempersiapkan setiap individu maupun masyarakat agar dapat hidup lebih layak sebagai manusia. Kahadirannya ditujukan untuk mengembangkan dirinya, masyarakat, alam, serta kehidupan dengan semua aktivitasnya.

Beberapa pandangan yang dikemukakan diatas, menyadarkan kita untuk mewujudkan nilai-nilai sosial dan spiritual yang terkandung dalam entrepreneurship. Ma. Yao dan Yang Igong (2001) mengatakan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai entrepreneurship harus terlebih dahulu merubah pola pikir, dan pola sikap, yang terwujud dalam pilihan hidup. Michael Lebout, dalam Aribowo (2004) memberikan formula untuk melakukan perubahan dan membentuk pola pikir (Mindset). Menurutnya harus dimulai dari; “The way thinks, determines the decision we make. The decision we make, determines what we do. What we do, determine how successful we become”. Lalu selanjutnya “Change your mind and you change your decision. Change your decision and you change your behavior. Change your behavior and you change your life”. Untuk bisa melakukan perubahan, seseorang harus terus belajar tanpa henti (Napitupulu, 1997). Rasul bersabda “Belajarlah sejak dari buaian samapai keliang lahat. Belajarlah sekalipun harus kenegeri China”.

Jangan ada keraguan untuk menjadi entrepreneur. Jangan ada keraguan untuk mengembangkan wawasan dan kemampuan entrepreneur. Menjadi entrepreneur bisa dilakukan sekalipun kita sudah bekerja, sebagai mahasiswa, sebagai pelajar, sebagai guru, pekerja atau sebagai apapun kita. Untuk memulai memang dipastikan susah. Namun dengan keyakinan dan ketawakalan dan tetap memohon bimbingan Allah SWT rasanya jalan akan terbuka. Al- Qur’an mengajarkan pada kita “ Dan Dia menundukan malam dan siang, matahri dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya”. (QS Al-Nahl. 16;12). Dengan demikian maka, tidak ada halangan untuk menjadi entrepreneur. Siapapun bisa. Menjadi entrepreneur adalah suatu keniscayaan.




PENTINGNYA MELAHIRKAN ENTREPRENEUR MUDA DI BIDANG SOSIAL DAN EKONOMI.


Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah
dikembalikan semua urusan. (QS.Al-Hadid 57;5)

Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan dari
(kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka ) bumi. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan
(QS.Al-Qashash. 28;77)




Entrepreneur di Bidang Sosial (Social Entrepreneur)

Sudah sepantasnya segera kita membayangkan apa yang harus kita lakukan disaat bangsa dan Negara kita terus didera oleh berbagai masalah dan tantangan yang menghadang. Begitu banyak rakyat di negeri kita, mengalami penderitaan luar biasa. Saat ini, jutaan anak mengalami kurang gizi. Jutaan anak tidak bisa mengakses pendidikan di sekolah. Jutaan penduduk hidup dibawah garis kemiskinan. Pengangguran absolute jumlahnya mencapai lebih dari 12 juta orang. Gelombang krisis financial global yang mendera negeri kita sekarang ini dipastikan akan menambah daftar panjang jumlah pengangguran. Pengangguran meningkat diakibatkan oleh tingginya angka pencari kerja, ditambah dengan angkatan kerja baru, dan penambahan pengangguran baru sebagai akibat dari pemutusan hubungan kerja (PHK). Ledakan jumlah pengangguran, akan mengakibatkan penurunan penghasilan. Penurunan penghasilan akan mengakibatkan penurunan daya beli. Pada akhirnya akan menambah jumlah penduduk miskin. Pengangguran dan kemiskinan merupakan masalah sosial sekaligus masalah ekonomi yang kompleks..

Masalah kemiskinan dan ledakan pengangguran yang kompleksitasnya tinggi, masih ditambah lagi dengan bencana kemanusian sebagai akibat dari bencana alam yang terus menimpa. Gempa bumi, banjir bandang, dan longsong tidak kunjung reda. Sementara itu berbagai konflik-konflik komunal yang bebau suku, agama, dan ras (SARA) merebak diberbagai daerah, menciptakan derita dan dendam. Mengancan kerukunan dan kedamaian hidup berbangsa dan bernegara.

Sungguh sangat memprihatinkan budaya gotong royong, kerjasama dalam bingkai kebangsaan mulai tersisih dan tergantikan dengan budaya hidup kapitalis. Sifat individualistik, mementingkan diri sendiri-kelompok dan golongan semakin kasat rasa. Merebak, menembus batas kota dan desa. Modal social sebagai ekspresi rasa kekeluargaan, kesenasiban, kesebangsaan, tolerenasi antar umat beragama, antar etnik sudah mulai tercerabut. Kohesivisme social kian menjauh. Kita semakin dihadapkan pada masalah social yang semakin kompleks.

Disaat masalah social yang kompleks belum terselesaikan, kini kita dihadapkan lagi pada masalah ekonomi. Pertumbuhan ekonomi belum merata. Kesenjangan ekonomi antar pulau, antar daerah, antar sector, antar strata social masih nampak nyata. Setiap persen pertumbuhan ekonomi yang dicapai masih belum mampu menyerap angkatan kerja. Bahkan, selalu terjadi disekuilibrium atara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat pertumbuhan angkatan kerja dan pencari kerja. Akibatnya masalah pengangguran tidak kunjung bisa ditanggulangi. Kodisi ini diperburuk lagi oleh dampak krisis financial yang melanda seluruh Negara di dunia. Banyak perusahaan di berbagai sector industri, perdagangan, dan jasa yang karena kesulitan financial mereka menutup usahanya. Puluhan bahkan ratusan ribu pekerja di PHK. Krisis financial juga telah mulai berdampak pada kenaikan harga, padahal tingkat pendapatan masyarakat menurun. Sektor riil yang berbasis di masyarakat sudah mulai terkena imbas. Rontoknya industri akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menurun, penghasilan masyarakat menurun, daya beli melemah. Efek domino negatifnya akan mengakibatkan kemiskinan bertambah, dan ledakan pengangguran akan tidak bisa terelakan. Inilah masalah besar yang kita hadapi saat ini. Kita harus mencari solusi, dan kita harus bangkit.

Masalah social yang kompleks berbaur dengan masalah ekonomi yang juga kompleks menjadi tantangan yang sangat berat. Kita memerlukan terobosan untuk mengatasi beban berat yang diderita bangsa dan Negara kita. Karena itu, ribuan aktivis kemanusiaan harus dilahirkan. Ribuan relawan social yang innovatif harus ditumbuhkan. Kita membutuhkan orang yang mampu menjadi the Doers, yaitu orang yang brilian dalam menggali gagasan sekaligus membuka jalan untuk merealisasikan gagasan-gagasan inovatifnya. Itulah orang-orang yang mampu mengubah angan-angan menjadi kenyataan. Orang-orang yang dapat menciptakan perubahan sesungguhnya- “to make thing happen, and to make a difference.” (Imam B. Prasidjo 2005). Kita memerlukan generasi muda, yang memiliki jiwa kepemimpinan, kepeloporan dan kemandirian. Kita memerlukan jumlah besar kaum muda yang memiliki kemampuan prima untuk mendinamisasi kehidupan social yang harmonis. Kita memerlukan entrepreneur muda sebagai pelaku ekonomi yang mampu menumbuhkan ekonomi rakyat pada skala mikro, kecil, menengah dan besar.

Salah satu pendekatan strategis untuk memcahkan masalah sosial dan ekonomi yang selalu berhimpitan, adalah dengan mencetak manusia problem solver. Mereka adalah entrepreneur muda. Untuk memecahkan masalah sosial dan sekaligus mengembangkan modal sosial kita harus berupaya mengembangkan kewirausahaan sosial atau Social Entrepreneur. Untuk memecahkan masalah ekonomi sekaligus menumbuhkan ekonomi dan industri kreatif yang berbasis masyarakat, kita perlu mengembangkan entrepreneur muda.

Dengan demikian peta jalan (road Map) dari berbagai upaya pengembangan entrepreneur diarahkan pada mencetak entrepreneur untuk bidang sosial, dan entrepreneur yang akan terjum di bidang ekonomi. Upaya untuk mencetak entrepreneur social dirasakan sangat mendesak. Kepentingannya adalah dalam rangka;

1. Mewujudkan kesadaran pribadi, kesadaran keluarga, kesadaran kelompok, kesadaran komunitas masyarakat untuk hidup bersama dalam suasana yang harmonis, aman, tenteram dan damai.
2. Mewujudkan suasana kehidupan social yang saling bertenggang rasa, memiliki ketulusan dan kerelaan untuk bergotong royong, saling menghargai, saling membantu, saling melindungi, saling bertoleransi, saling menghargai hak sesama manusia.
3. Menumbuhkan kearifan social masyarakat yang dapat memelihara, mengembangkan norma-norma, nisai-nilai social, nilai-nilai budaya luhur yang dapat meningkatkan kemartabatan dan keberadaban manusia.
4. Menumbuhkan dan meperkuat kesadaran kebangsaan, merasa satu bangsa, satu tanah air, dalam satu ikatan bahasa persatuan – bahasa Indonesia.
5. Mengembangkan kehidupan social masyarakat yang dinamis dalam bingkai persatuan lintas etnis, bahasa, agama, budaya yang sangat majemuk.
6. Menumbuhkan bentuk-bentuk organisasi responsif yang berbasis pada komunitas, yang pada gilirannya akan mendorong terciptanya komunitas responsive dimana semua warga didalamnya berperan aktif dalam mengatasi berbagai masalah yang muncul di lingkungannya.
7. Menumbuhkan pemrakarsa atau inisiator-inisiator, pelopor-pelopor pembangunan integrative yang berbasis pada masyarakat, dengan prinsip dari – oleh – untuk masyarakat.
8. Membangun masyarakat madani yang dapat menumbuhkan kesadaran bersama untuk melakukan pemberdayaan masyarakat lingkungannya sehingga mereka mampu memecahkan masalah dan tantangan yang dihadapinya. Masyarakat terbebas dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakanga.
9. Mewujudkan sinergi yang harmonis antara masyarakat dengan pemerintah, dan elemen bangsa lainnya guna memacu berbagai upaya pembangunan yang mensejahterakan rakyat.
10. Mewujudkan Indonesia masa depan yang kuat karena bertumpu pada kepemimpinan kolektif yang memiliki akar pada rakyat.



Sungguh terpuji apabila para mahasiswa, para akademisi, kalangan terdidik lainnya memiliki kesadaran untuk memerankan diri sebagai entrepreneur di bidang sosial. Membawa masyarakat kearah kebaikan, dan kemartabatan hidup adalah suatu yang bukan saja baik bagi dirinya, tetapi juga baik bagi orang lain. Tidaklah berlebihan kalau saya katakana bahwa menjadi entrepreneur di bidang sosial adalah merupakan satu wujud kiprah diri sebagai khalifah. Dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw, pernah bersabda. “Sebaik-baik kamu adalah orang yang tidak meninggalkan dunianya untuk akhiratnya, dan meninggalkan akhiratnya untuk dunianya atau tidak menjadi beban orang lain”. Menjadi entrepreneur sosial bukan saja akan menjadi orang yang tidak membebani orang lain, tetapi menjadi orang yang membebaskan beban orang lain. Tokoh sosial entrepreneur Muhammad Yunus, mengatakan kita memulai dari diri sendiri (2007) dan mengajak orang lain untuk bekerja dengan rajin, tekun, efisien, dan jujur. Rasulullah Saw, bersabda “Barang siapa yang melakukan pekerjaan, Tuhan mencintai sesorang yang melakukan pekerjaannya dengan baik dan efisien. Dan karena Dia Maha Indah, dan Maha Baik, Dia mencintai sesuatu yang dikerjakan dengan cara yang indah dan baik” (Abul A’la Maududi, The Meaning of the Quran, vol.V,h.12)

Entrepreneur di Bidang Ekonomi

Dari perspektif ekonomi, bangsa dan Negara kita memerlukan jumlah besar entrepreneur muda. Untuk itu diperlukan gerakan yang mampu menggalang aksi bersama. Aksi bersama tersebut dilakukan secara sinergik dan kolaboratif lintas instansi dan institusi pemerintah dan pemerintah daerah. Lintas elemen masyarakat termasuk elemen pemuda. Gerakan mewirausahakan pemuda, dilakukan secara sitemik dan sistematik dengan memanfaatkan berbagai wahana pendidikan dan pembelajaran. Arah gerakan tersebut difokuskan untuk mencetak, melahirkan entrepreneur muda, membentuk kelompok usaha wirausaha muda, dan membentuk sentra – sentra wirausaha muda di pedesaan dan perkotaan. Pentingnya mencetak, dan menumbuh-kembangkan wirausaha (entrepreneur ) muda adalah untuk ;

1. Mempercepat penanggulangan pengangguran yang akan memberikan dampak positif terhadap percepatan penanggulangan kemiskinan;
2. Meningkatkan jumlah dan kualitas entrepreneur muda yang memiliki komitmen dan kemampuan prima dalam merintis dan mengembangkan usaha yang dapat menyerap tenaga kerja;
3. Memacu tumbuhnya ekonomi dan industri kreatif di pedesaan dan perkotaan yang diprakarsai, dan dipelopori oleh kaum muda;
4. Menumbuhkan generasi baru yang memiliki pola pikir dan pola sikap baru untuk menjadikan entrepreneur sebagai pilihan hidupi;
5. Memacu pertumbuhan berkelanjutan sector riil ekonomi dan industri rakyat skala mikro, dan kecil yang ada di pedesaan dan perkotaan;
6. Memacu dan mempertahankan produktivitas dan daya saing ekonomi dan industri kreatif untuk menguasai pasar local, domestic dan internasional;
7. Menyediakan pelaku pembangunan ekonomi dan industri yang memiliki jiwa kepeloporan, kepemimpinan dan kemandirian;
8. Membangun budaya entrepreneur di kalangan kaum muda, dan generasi muda yang akan datang;.
9. Menyiapkan kader-kader pengembang entrepreneur yang dapat dijadikan sebagai mentor, pembimbing, pendamping entrepreneur muda melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, pemagangan, dan incubator bisnis.

Entrepreneur di bidang ekonomi sangat diperlukan untuk menumbuhkan ekonomi dan industri kreatif berbasis masyarakat, memacu pertumbuhan ekonomi dan industri pada skala mikro, kecil, menengah dan besar yang mensejahterakan seluruh rakyat tanpa diskriminatif. Entrepreneur muda sangat diperlukan untuk memacu kjemajuan dan daya saing ekonomi dan industri di tingkat local, domestic dan internasional. Barisan entrepreneur muda sangat diperlukan untuk menjadikan Negara dan bangsa kita terbebas dari segala bentuk ketergantungan pada Negara lain. Negara dan bangsa kita berdaulat di bidang ekonomi.


LANGKAH STRATEGIS DAN PROGRAM AKSI BERSAMA


Dan Dia menmundukan untukmu apa yang ada dilangit
dan apa yang dibumi semuanya (sebagai rakhmat) daripadaNya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
Tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi k aum yang berpikir.
(QS Al-Jatsiyah 45;13)

Usaha mengembangkan entrepreur bagi kaum muda, bukanlah pekerjaan gampang seperti membalik telapak tangan. Usaha ini memerlukan pengerahan sumber daya manusia yang akan menjadi pelaksananya. Sudah barang tentu juga memerlukan sarana/prasarana, biaya, tata kelola, dan pengembangan yang dilakukan secara berkalanjuta. Kita perlu mewujudkan visi bersama, memperjelas misi bersama, dan menetapkan peta jalan (road-map) yang akan dilalui dari keseluruhan proses untuk mencapai tujuan, dan manfaat yang akan diwujudkan. Tetapi janganlah kita pesimis hanya karena dihadapkan pada banyak kendala dan masalah yang harus dihadapi. Semuanya harus disiasati sebagai tantangan dan dibalik itu ada peluang. Kita meyakini firman Allah SWT bahwasanya …”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS.Alam Nasyroh.98;5-8). Selama kita masih bisa melakukan kerjasama, selama kita masih dalam kesadaran untuk maju bersama, saling bahu-membahu, kita akan dapat melakukan pekerjaan besar. Dengan kebersamaan itu pula, kita dapat merancang langkah strategis, dan merealisasikan kegiatan aksi bersama.

Beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan dalam upaya mengembang entrepreneur bagi generasi muda antara lain;

1. Menanamkan nilai-nilai, dan kecakapan entrepreneur melalui pendidikan yang dilakukan pada jalur pendidikan sekolah mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi, satuan pendidikan non formal, dan pada pendidikan informal atau di dalam lingkungan keluarga;
2. Mengembangkan berbagai model pendidikan dan pelatihan entrepreneur yang diorientasikan untuk mencetak entreprneur social dan entrepreneur di bidang ekonomi;
3. Mengembangkan model-model pendidikan dan pelatihan mentor entrepreneur yang akan membimbing entrepeneur muda di pedesaan dan perkotaan;
4. Membentuk pusat-pusat pelatihan dan pembimbingan kewirausahaan di setiap daerah didasarkan atas potensi sumber daya alam local, kejeniusan local, prospek dan peluang yang terbuka
5. Mengembangkan pembentukan kelompok wirausaha pelajar, mahasiswa dan pemuda di sekolah/kampus dan dilingkungan masyarakat;
6. Mengembangkan model incubator bisnis wirausaha muda (pelajar, mahasiswa dan pemuda) di desa, dan/atu kota;
7. Mengembangkan sentra-sentra kewirausahaan pemuda di desa dan kota, dengan produk/usaha unggulan yang dapat membuka peluang kesempatan kerja dan nkesempatan usaha;
8. Mengembangkan jaringan kemitraan usaha yang dapat memperluas dan memperkuat jaringan promosi dan pemasaran, pengadaan sarana dan prasarana usaha, fasilitasi permodalan, dan korporatisasi usaha;
9. Meningkatkan produktivitas, dan daya saing usaha, melalui peningkatan kemampuan manajerial pada wirausahawan muda, peningkatan kemampuan profesionalitas para pekerja, peningkatan kualitas produk, kualitas pelayanan pada pelanggan, dan tata kelola modal usaha;

Program aksi bersama yang harus dilakukan secara sinergik dan kolaboratif lintas actor dan institusi antaralain;

1. Program ESAP yaitu program Edukasi, Sosialisasi, Advokasi, dan Pendampingan yang diberikan pada berbagai segmen sasaran layanan seperti pelajar , mahasiswa dan pemuda di luar pelajar dan mahasiswa, demikianhalnya pada keluarga dan masyarakat, khususnya kaum wanita di pedesaan dan di perkotaan;
2. Penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan kader wirausaha muda pelajar, mahasiswa, dan pemuda di pedesaan dan perkotaan;
3. Pembentukan dan penguatan kemampuan pusat pendidikan dan pelatihan etrepreneur muda di sekolah (SMA dan SMK), perguruan tinggi, lembaga pendidikan latihan milik pemerintah pusat, lembaga pendidikan dan pelatihan milik pemerintah daerah, lembaga pendidikan dan pelatihan milik industri, lembaga pendidikan dan latihan milik masyarakat, lembaga pendidikan dan pelatihan milik organisasi social kemasyarakatan, dan lembaga pendidikan dan peltihan milik asosiasi profesi/asosiasi pengusaha;
4. Pelaksanaan pelatihan mentor atau pendamping teknis untuk wirausaha muda di sekolah, perguruan tinggi, lembaga kursus, dan lembaga pendidikan lain yang berakar di masyarakat di pedesaan dan perkotaan;
5. Pembentukan sentra wirausaha muda di pedesaan dan perkotaan;
6. Pelaksanaan promosi dan pemasaran produk wirausaha muda di daerah, pusat, dan luar negeri;
7. Pelaksanaan berbagai lomba, pemilihan wirausaha muda teladan, wirausaha muda kreatif, wirausaha muda berprestasi, lomba inovasi bisnis, lomba bisnis plan, dan lain sejenisnya di tingkat local, daerah, dan nasional;
8. Pemberian bantuan teknis dan fasilitasi pengembangan usaha wirausaha muda di pedesaan dan perkotaan;
9. Penyelenggaraan pameran bersama produk barang dan jasa entrepreneur muda di daerah di tingkat nasional dan di luar negeri;
10. Mendirikan pusat informasi bisnis entrepreneur muda sebagai media promosi dan pemasaran produk barang dan jasa entrepreneur muda;
11. Meningkatkan penyelenggaraan forum bisnis wirausaha muda sebagai sarana dan media untuk tukar pengalaman, menjalin kemitraan antar wirausaha muda;
12. Melakukan pemilihan wirausahan muda berprestasi, kreatif, inovatif, dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda;

Keseluruhan lingkup langkah strategis dan program aksi bersama seperti yang dipaparkan diatas, memerlukan kesadaran dan keikutsertaan kolektif. Dari sisi religiusitas, membangun kesadaran dan keikutsertaan bersama sangat dianjurkan. Allah SWT berfirma “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu; “berlapang-lapanglah dalam majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan; “Berdirilah kamu” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Mujadilah.58; 11). Dalam pandangan saya, firman Allah tersebut mengingatkan kita untuk melakukan kerjasama guna mewujudkan langkah strategis dan program aksi bersama.

Langkah strategis dan program aksi bersama ini dalakukan dalam rangka; (1) membangun dan memperkuat komitmen kolektif dan visi bersama untuk melaksanakan gerakan nasional kewirausahaan bagi pemuda dan generasi muda; (2) mempercepat dan memperluas pelayanan program penumbuhan kader wirausaha muda dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda di pedesaan dan perkotaan; (3) meningkatkan kemampuan layanan yang dapat menjangkau target sasaran lebih luas menjangkau strata pelajar, mahasiswa dan pemuda yang sangat beragam; (4) meningkatkan produktivitas, efisiensi, efentivitas penyelenggaraan berbagai program dan kegiatan pemberdayaan wirausaha muda di pedesaan dan perkotaan; (5) meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara program dengan kebutuhan calon wirausaha muda, kebutuhan pasar, dan kebutuhan dunia usaha di masa depan.


JADILAH ENTREPRENEUR

Sesungguhnya Kami telah mencviptakan manusia
Dalam bentuk yang sebaik-baiknya
(QS. At Tiin. 95;4)
Sesunggunya dalam penciptaan langit dan bumu, silih bergatinya
malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang
berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit, lalu
dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya) dan Dia
ebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin
dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh
terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum
yang memkirkan. (QS Al-Baqarah 2; 164)

Pada bagian ini saya akan menyampaikan ajakan dan harapan kepada para mahasiswa untuk memilih profesi sebagai entrepreneur. Berangkat dari pemahaman bahwa “akan menjadi apa ?kita nanti. Saya mengambil paradigmanya Robert T. Kiyosaki dan Sharon L. Lechter C.P.A. (2007) mereka mengatakan ada empat pilihan yang dikedepankan. Keempat pilihan itu adalah; Pertama; Sebagai Employee.sebagai pekerja. Anda mempunyai pekerjaaan ; Kedua, Sebagai Self-Employed. Sebagai pekerja lepas atau bebas. Anda memiliki pekerjaan; Ketiga, Business owner. Sebagai pemilik usaha. Anda memiliki usaha dan orang bekerja untuk anda; dan Keempat; Investor. Sebagai penanam modal. Uang bekerja untuk anda. Harapannya para mahasiswa memilih menjadi pemilik usaha (entrepreneur).

Kalau memilih menjadi entrepreneur, siapapun dpat menentukan pilihan. Bisa saja memilih menjadi entrepreneur di bidang sosial, atau meilih menjadi entrepreneur di bidang ekonomi. Bidang apapun yang dipilih, kita harus mempersiapkan diri. Untuk menjadi entrepreneur mulailah kita memahami apa dan siapa entrepreneur itu? Ciputra (2006) mengatakan seorang entrepreneur cirinya adalah; Prtama, seseorang yang mampu melihat peluang bisnis, atau usaha yang tidak dilihat atau tidak diperhitungkan oleh orang lain. Ia melihat kemungkinan dan memilki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak. Kedua, seorang entrepreneur adalah orang yang bertindak untuk melakukan inovasi, mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan yang ia inginkan. Ketiga. Seorang entrepreneur adalah pengambil risiko baik financial maupun mental.

Banyak para wirausawan muda yang memulainya dengan sangat sederhana. Mereka memulai dengan; (1) Meyakini bahwa dirinya mempunyai bakat, mempunyai hobby, pengetahuan, keterampilan, dan mampu melakukan sesuatu baik sendiri maupun dengan orang lain; (2) Mulai melihat, mengamati, mememahami seatu usaha orang lain. Disini dia bertanya pada dirinya, kalau orang lain saja bisa, mengapa saya tidak?. Saya juga bisa dan akan lebih baik. Semangat mulai dimunculkan; (3) Mulai melihat, menangkap peluang, dan mengamati kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. (4) Mulai menggagas, memikirkan taktik, merumuskan langkah yang harus dilakukan, dan menemukan kreasi yang baru. (5) Mulai mempelajari, menetapkan produk/jasa yang akan dihasilkan, menetapkan target pasar, mengamati pesaing, daerah operasi/lokasi usaha, mitra usaha, tata kelola usaha. (6) Mulai meakukan kegiatan usaha. (7) Mulai melakukan promosi, melakukan kerjasama usaha, menjalin hubungan baik dengan mitra usaha dan ko0nsumen. (8) Menata langkah-langkah pengembangan usaha.
Seorang sahabat Lim Hoy Pick (1980), mengatakan bahwa, . untuk menjadi anda harus melakukan dua langkah.. Langlkah pertama; hilangkan dulu kebiasaan negative (buruk) yaitu; malas, membuang-buang waktu, tidak disiplin, hanya keluh kesah, menyalahkan orang lain, boros, konsumtif, menginginkan sesuatu yang sifatnya instant, hanya ingin dilayani, ingin menang sendiri, suka membohongi, senang melihat orang lain susah, suka bersenang-senang, mengabaikan tanggung jawab, angkuh dan suka menerabas. Langkah kedua; membiasakan dengan kebiasaan yang positif yaitu, belajar keras, mau belajar pada orang lain, mendisiplinkan diri, mengasah bakat dan hobi, senang membantu orang lain, gemar mencari tahu dan rahasia keberhasilan dan kegagalan orang lain, bertanggung jawab, jujur dan bisa dipercaya, mengasah pikiran, mengasah imaginasi, berkreasi untuk sesuatu yang menarik minat, dan melayani.

Lebih lanjut Lim Hoy Pick, Entreprenur yang sukses itu pada umumnya hanya ditentukan oleh tiga hal yaitu; (1) banyak memberikan keuntungan pada orang lain; (2) banyak memberikan peluang pada orang lain; dan (3) menjadikan dirinya orang yang bisa diajak kerjasama, bisa dipercaya, dan tidak membuat masalah pada orang lain. AA Gym (2004) mengatakan seorang entrepreneur jangan terobsesi untuk menikmati hasil, tetapi harus menikmati proses. Kedua pendapat ini sejalan dengan rumusan Drayton seperti yang disadur oleh David Borstein (2004) menggambarkan empat siklus hidup sukses yaitu (1) “masa magang” suatu periode panjang ketika para entrepreneur mendapat pengalaman, keterampilan, dan kepercayaan yang diperlukannya untuk membawa perubahan besar; (2) “peluncuran” pertiode awal ketika para entrepreneurt mulai menguji dan membuktikan gagasan-gagasannya, (3) “tinggal landas” periode panjang ketika para entrepreneur mengonsolidasikan organisasinya dan melanjutkan dengan penghalusan dan penyebaran gagsan-gagasannya sampai diterima secara luas; dan (4) “kematangan”, titik ketika para entrepreneur telah memberikan dampak yang terbukti pada bidanya. Apa yang dikatakan oleh Drayton sangat cocok untuk dijadikan bahan rujukan oleh siapa saja yang akan menjadi entrepreneur baik dibidang sosial maupun di bidang ekonomi.


KESIMPULAN DAN HARAPAN

Saya yakinkan kembali bahwa, Indonesia adalah sebuah negeri yang memerlukan entrepreneur baru dalam jumlah yang besar. Entrepreneur yang diperlukan untuk memajukan bangsa dan Negara ini adalah entrepreneur di bidang social dan entrepreneur di bidang ekonomi. Kebutuhan terhadap kedua sosok entrepreneur ini makin terasa mendesak dari waktu kewaktu. Entrepreneur sosial sangat diperlukan untuk melakukan pembangunan sosial berkelanjutan yang akan memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegara dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia. Entrepreneur sosial diperlukan untuk membangun kembali, melakukan transformasi sosial yang menjadikan bangsa kita sebagai bangsa yang cerdas, maju, beradab, bermartabat dapat hidup bersama, hidup harmonis dalam berbagai kemajuk

Barisan entrepreneur muda, kita harapkan dapat menjadi bagian dari solusi atas sejumlah persoalan di bidang ekonomi dan ketenagakerjaan di negeri kita. Dengan menciptakan pekerjaan pertama-tama bagi dirinya sendiri, dan kemudian mempekerjakan orang lain dalam kegiatan usahanya, kehadiran entrepreneur akan mengurangi jumlah pengangguran. Bukan Cuma itu. Dengan kreativitas dan kemampuan inovasinya, seorang entrepreneur juga memberikan nilai tambah kepada masyarakat yang menikmati produk atau jasa hasil karyanya. Dan apabila karya atau produk entrepreneur muda itu bisa diekspor ke manca Negara, maka akan meningkatkan perolehan devisa Negara. Kehadiran dan peranan entrepreneur sangat diperlukan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan industri kreatif yang berbasis masyarakat dan mensejahterakan masyarakat. Kiprah mereka sangat diperlukan untuk menumbuhkan usaha mikro, kecil, mengah dan besar yang akan menjadi tuan di negeri sendiri. Mahasiswa diharapkan menjadi entrepreneur muda yang kreatif, produktif dan bedaya saing. Tidak ada kata terlalu awal, atau terlambat untuk menjadi entrepreneur.


Selamat Datang


Selamat Datang di Blog Kewirausahaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung